Minggu, 03 Juli 2011

Sekilas Tentang Ilmu leak

Leak merupakan sesuatu yang mengerikan, mendengarnya saja sudah bisa bikin bulu kuduk berdiri apalagi……….!!! Begitulah kira-kira gambaran orang awam apabila mendengar kata Leak, namun pada dasarnya dan yang sebenarnya Leak tidak semengerikan yang dikira orang selama ini.

Sebenarnya pada kenyataanya Leak adalah salah satu Ilmu Kuno yang diwariskan oleh leluhur-leluhur Hindu di Bali. Seringkali pada masa sekarang orang cenderung sering mempertanyakan keberadaan Leak ini, Apa benar Leak itu ada? Terkadang mereka bertanya, Apa Leak itu dapat menyakiti?, pada kenyataannya Secara umum Leak itu tidak menyakiti, Leak itu adalah proses ilmu yang bisa dibilang cukup baik dan bagus bagi yang berminat. Karena Ilmu ini sebenarnya mengacu pada pencarian pencerahan pada diri sendiri oleh karena itu dalam mempelajari ilmu Leak ini terdapat etika-etika tersendiri yang harus diikuti. Ilmu Leak ini dapat dipelajari, karena Leak ini berupa Ilmu maka siapapun dapat mempelajarinya, Namun Tidak gampang mempelajari Ilmu ini, dibutuhkan Totalitas dan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu Leak ini.

Di dalam kehidupan bermasyarakat sering kali Leak identik dan dicap sebagai sesuatu yang dapat menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal yang sebenarnya tidak seperti itu. Ilmu Leak juga sama seperti ilmu-ilmu kuno yang lainnya yang terdapat dalam tulisan-tulisan Lontar Kuno Bali. Konon Dahulu ilmu Leak tidak sembarangan orang yang dapat mempelajarinya, dikarenakan ilmu Leak ini merupakan ilmu yang sangat rahasia yang berguna sebagai pertahanan diri dari serangan musuh. Orang-orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para Raja, Petinggi-Petinggi dan Pejabat-pejabat penting Istana lainnya beserta bawahannya. Tujuannya tiada lain sebagai ilmu pertahanan diri dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini dalam mempelajarinya memilih tempat yang sangat rahasia, karena ilmu Leak ini memang rahasia. Jadi pada jaman dahulu tidak sembarangan orang yang dapat mempelajari ilmu ini. Namun seiring dengan perubahan zaman secara otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya tetap sama dalam penerapannya dan yang jelas ilmu Leak ini tidak menyakiti. Yang menyakiti itu sebenarnya adalah ilmu Teluh atau Nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut Pengiwa. Nah Ilmu Pengiwa inilah yang sebenarnya banyak berkembang di kalangan masyarakat sekarang hingga seringkali dicap sebagai ilmu Leak.

Seperti yang telah dikatakan diatas Leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan Endih Leak (Flaming ghost). Endih ini bisa berupa Fisik atau Jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi orang yang mempelajarinya. Untuk yang baru belajar, Endih itu biasanya adalah lidahnya sendiri dengan kata lain ia menggunakan lidah untuk mengucapkan mantra atau dengan menggunakan sarana dalam hal ini yaitu lidahnya. Dalam menjalankannya dibutuhkan sedikit upacara atau ritual. Sedangkan yang melalui Jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu Leak. Sehingga kelihatan seperti endih Leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau sukma-nya.

Bentuk endih Leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada yang seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya. Endih Leak ini tidak sama dengan sinar lampu atau penerangan lainnya, endih Leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Menurut yang pernah melihatnya, endih Leak ini berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini berkerlap-kerlip tidak seperti penerangan lainnya yang hanya hanya diam. Warnanya pun berbeda, kalau endih Leak itu lebih dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam, dan endih ini tidak bisa dipakai untuk memasak karena endih ini tidak menyebabkan panas disebabkan sifatnya yang berbeda, Endih ini bersifat Niskala, dan tidak bisa dijamah. Endih Leak ini biasanya muncul pada saat Praktisi-praktisi Leak sedang latihan atau sedang bermain dan bercengkrama dengan Leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya Endih tersebut biasanya pada saat malam hari khususnya tengah malam, dan tidak disembarang hari karena tidak sembarangan menjalankan dan melakukan ilmu Leak tersebut. Ilmu leak tidak menyakiti siapapun apabila kebetulan ada orang yang melihatnya sebenarnya tidak perlu waswas, bersikap sewajarnya dan biasa saja, bila takut untuk melihat, ucapkanlah nama-nama Tuhan.

Pada dasarnya, ilmu Leak itu adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut Leak.
Yang ada adalah “Liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).

Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
- Si adalah mencerminkan Tuhan
- Wa adalah anugrah
- Ya adalah jiwa
- Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
- Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Kekuatan aksara ini disebut Panca Gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indra tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Namun pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut. Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut, dan ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui Ngelekas atau Ggerogo Sukmo (Meraga Sukma). Kata Ngelekas artinya kontaksi batin agar badan Astral kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang mendalami Ilmu Leak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut Angeregep Pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut Endih atau lazim dilihat sebagai Bola cahaya yang melesat dengan cepat

Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu) Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia Per-Leak-an ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Apabila ada mayat baru atau orang yang baru meninggal, anggota Leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya. Begini bunyi doa leak memberikan berkat : “ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”. Doa ini dibacakan sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa Leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Padahal tidak seperti itu. Tapi mengapa harus dikuburan? Hal ini dikarenakan Filosofi Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan. Hal lain juga menyebutkan terkain ilmu Leak ini yang berdasarkan dari warisan kuno Hindu bahwa Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Menapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.

Sementara di Bali kuburan-kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan yang dapat membuat ketar-ketir terkencing kencing. Hal tersebut Ini disebabkan karena kita sebagai orang awam yang tidak tahu apa-apa dan jarangatau bahkan tidak tahu sama sekali akan tulisan Lontar Tatwaning Ulun Setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan itu adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa. Contoh dari semua itu adalah, Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Nah tradisi atau budaya inilah terkadang banyak disalah artikan dengan halhal lain diluar tirakat mencari pencerahan, pada masa sekarang justru tirakat ini kebanyakn malah meminta-minta dikuburan untuk mendapatkan kekayaan, rejeki, jodoh atau hal-hal lainnya, sungguh bodoh.

Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan Leak. Diantaranya adalah Leak Barak (Brahma), Leak Barak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api, kemudian ada Leak Bulan, Leak Pemamoran, Leak Bunga, Leak Sari, Leak Cemeng Rangdu, serta terakhir Leak Siwa Klakah. Leak Siwa Klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya dapat mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut Leak sering kecele, ketika emosinya sedang labil, karena Ilmu tersebut dapat membabi buta dan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama Leak. Sama halnya seperti senjata (baik senjata tajam ataupun senjata api), salah dalam penggunaannya dapat berakibat fatal dan berbahaya. Oleh sebab itu pemegang ilmu ini dituntut kestabilan emosi karena hal tersebut sangat penting. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, Padahal hal-hal yang negative tersebut sebenarnya disebabkan oleh aliran yang memang khusus mempelajari dan memperdalam ilmu hitam tersebut, ilmu ini di Bali disebut penestian. Ilmu ini memang dikhususkan untuk bagaimana membikin orang celaka, sakit, dan lain-lain dengan kekuatan batin hitam. Biasanya cara yang digunakan adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan Ajian-Ajian tertentu, seperti Aji Gni Salembang, Aji Dungkul, Aji Sirep, Aji Penangkeb, Aji Pengenduh, Aji teluh Teranjana, dan mungkin masih ada lagi ajian-ajian yang lain, Dan Ini disebut pengiwa (tangan kiri). Mengapa disebut tangan kiri? Karena setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dideteksi secara klinis.Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…dst,

Ilmu Leak sendiri pada perkembangan di masa kini masih berkembang dikarenakan pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan Leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Yang baik biarlah menjadi baik, dan yang buruk biarlah menjadi buruk, lalu? Terserah kita akan memilih yang mana.

(
Dirangkum dari berbagai sumber)

SELENGKAPNYA - Sekilas Tentang Ilmu leak

Sejarah Bali

SEJARAH
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti "Kekuatan", dan "Bali" berarti "Pengorbanan" yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.

DESKRIPSI LOKASI
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

UNSUR – UNSUR BUDAYA

A. BAHASA
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

B. PENGETAHUAN
Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

C. TEKNOLOGI
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

D. ORGANISASI SOSIAL
a). Perkawinan
Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.
Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.
c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

E. MATA PENCAHARIAN
Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan.

F. RELIGI
Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.

G. KESENIAN
Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.

NILAI-NILAI BUDAYA
1. Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya.
2. Nguopin : gotong royong.
3. Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama.
4. Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex.

ASPEK PEMBANGUNAN
Di Bali jenis mata pencahariannya adalah bertani disawah. Mata pencaharian pokok tersebut mulai bergeser pada jenis mata pencaharian non pertanian. Pergeseran ini terjadi karena bahwa pada saat sekarang dengan berkembangnya industri pariwisata di daerah Bali, maka mereka menganggap mulai berkembanglah pula terutama dalam mata pencaharian penduduknya.

Sehingga kebanyakan orang menjual lahannya untuk industri pariwisata yang dirasakan lebih besar dan lebih cepat dinikmati. Pendapatan yang diperoleh saat ini kebanyakan dari mata pencaharian non pertanian, seperti : tukang, sopir, industri, dan kerajinan rumah tangga. Industri kerajinan rumah tangga seperti memimpin usaha selip tepung, selip kelapa, penyosohan beras, usaha bordir atau jahit menjahit.

DAFTAR PUSTAKA
  • Swarsi, Si Luh;1986;Kedudukan Dan Peranan Wanita Pedesaan Daerah Bali;Jakarta: Departeman Pendidikan Dan Kebudayaan
  • Dhana, I Nyoman;1994;Pembinaan Budaya Dalam Keluarga Daerah Bali;Bali: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
SELENGKAPNYA - Sejarah Bali